assalamualaikum ini juga cerita islam
PINTU SORGA
Jaman dahulu adalah seorang lelaki yang baik hatinya. Ia
telah menjalani hidupnya dengan melakukan segala hal yang
memungkinkan orang masuk sorga. Ia memberi harta kepada si
miskin, ia mencintai sesamanya,
dan ia mengabdi kepada
mereka. Karena mengingat pentingnya kesabaran, ia senantiasa
bertahan terhadap kesulitan yang besar dan tak diduga-duga,
sering itu semua demi kebahagiaan orang lain. Iapun
mengadakan perjalanan jauh-jauh untuk mendapatkan
pengetahuan. Kerendahhatian dan perilakunya yang pantas
ditiru begitu dikenal sehingga ia dipuji-puji sebagai
seorang yang bijaksana dan warga yang baik; pujian itu
terdengar mulai dari Timur sampai ke Barat, Utara sampai ke
Selatan.
Segala kebaikan itu memang dijalankan --selama ia ingat
melakukannya. Namun ia memiliki kekurangan, yakni kurang
perhatian. Kecenderungan itu memang tidak berat, dan
ditimbang dengan kebaikannya yang lain, hal itu merupakan
cacat kecil saja. Ada beberapa orang miskin yang tak
tertolongnya, sebab selalu saja ia kurang memperhatikan
kebutuhan mereka itu. Kasih sayang dan pengabdian pun
kadang-kadang terlupakan apabila yang dipikirkannya sebagai
kebutuhan pribadi muncul dalam dirinya.
Ia suka sekali tidur. Dan kadang-kadang kalau ia sedang
tidur, kesempatan mendapatkan pengetahuan, atau memahaminya,
atau melaksanakan kerendahhatian, atau menambah jumlah
tindakannya yang terpuji kesempatan semacam itu lenyap
begitu saja, tak akan kembali lagi.
Wataknya yang baik meninggalkan bekas pada dirinya; begitu
juga halnya dengan wataknya yang buruk, yakni kurangnya
perhatian itu.
Dan kemudian ia meninggal. Menyadari dirinya berada di balik
kehidupan ini, dan sedang berjalan menuju pintu-pintu Taman
Berpagar, orang itu istirahat sejenak. Ia mendengarkan
kata-hatinya. Dan ia merasa bahwa kesempatannya memasuki
Gerbang Agung itu cukup besar.
Disaksikannya gerbang itu tertutup; dan kemudian terdengar
suara berkata kepadanya, "Siagalah selalu; sebab gerbang
hanya terbuka sekali dalam seratus tahun." Ia pun duduk
menunggu, gembira membayangkan apa yang akan terjadi. Namun,
jauh dari kemungkinan untuk menunjukkan kebaikan terhadap
manusia, ternyata ia menyadari bahwa kemampuannya untuk
memperhatikan tidak cukup pada dirinya. Setelah siaga terus
selama waktu yang rasanya sudah seabad kepalanya
terkantuk-kantuk. Segera saja pelupuk matanya tertutup. Dan
pada saat yang sekejap itu, gerbangpun terbuka. Sebelum mata
si lelaki itu terbuka sepenuhnya kembali, gerbang itupun
tertutup: dengan suara menggelegar yang cukup dahsyat untuk
membangunkan orang-orang mati.
Catatan
Kisah ini merupakan bahan pelajaran darwis yang disenangi;
kadang-kadang disebut "Parabel Tentang Kurangnya Perhatian,"
Meskipun terkenal sebagai kisah rakyat, asal-usulnya tak
diketahui. Beberapa orang menganggapnya ciptaan Hadrat Ali,
Kalifah Keempat. Yang lain mengatakan bahwa kisah itu begitu
penting, sehingga tentunya diucapkan sendiri oleh Nabi,
secara rahasia. Jelas kisah ini tidak terdapat dalam Hadits
Nabi.
Bentuk sastra yang kita pilih ini berasal dari seorang
darwis tak dikenal dari abad ketujuh belas, Amil Baba, yang
naskah-naskahnya menekankan bahwa "pengarang sejati adalah
orang yang karyanya tak bernama (anonim), sebab dengan cara
itu tak ada yang berdiri antara pelajar dan yang
dipelajarinya."
Read More..
Tampilkan postingan dengan label KISAH-KISAH ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH-KISAH ISLAM. Tampilkan semua postingan
3.26.2011
CERITA INI DI AMBIL DARI KISAH" SUFI
assalamualaikum kembali lagi di kisah" islam
BURUNG DAN TELUR
Zaman dahulu ada seekor burung yang tidak mempunyai tenaga untuk terbang. Seperti ayam, ia berjalan-jalan saja di tanah, meskipun ia tahu bahwa ada burung yang bisa terbang.
Karena berbagai keadaan, ada telur seekor burung yang bisa
dierami oleh burung yang tak bisa terbang itu.
Setelah sampai waktunya, telur itu pun menetas.
Burung kecil itu masih memiliki kemampuan untuk terbang yang
diwarisi dari ibunya, yang tersimpan dalam dirinya sejak ia
masih berada dalam telur.
Ia pun berkata kepada orang tua angkatnya, "Kapan aku akan
terbang?" Dan burung yang hanya bisa berjalan di tanah itu
menjawab, "Cobalah terus menerus belajar terbang, seperti
yang lain."
Yang tua itupun tidak tahu bagaimana mengajarkan cara
terbang kepada anak angkatnya: ia bahkan tidak tahu
bagaimana menjatuhkannya dari sarang agar bisa belajar
terbang.
Dan aneh bahwa burung kecil itu tidak mengetahui hal
tersebut. Pemahamannya terhadap keadaan terkacau oleh
kenyataan bahwa ia merasa berterima kasih kepada burung yang
telah mengeraminya.
"Tanpa jasa itu," katanya kepada diri sendiri, "tentu aku
masih berada dalam telur."
Dan ia juga kadang-kadang berkata kepada dirinya sendiri,
"Siapa pun bisa mengeramiku, tentu bisa juga mengajarku
terbang. Tentunya hanya soal waktu saja, atau karena usahaku
yang tanpa bantuan, atau karena suatu kebijaksanaan agung:
ya, ini jawabnya. Tiba-tiba suatu hari aku akan terbawa ke
tahap berikutnya oleh-nya yang telah membawaku sejauh ini."
Catatan
Kisah ini terdapat dalam berbagai bentuk dalam versi-versi
yang berbeda dari karya Suhrawardi, Awarif al-Maarõf, dan
mengandung pelbagai pesan. Konon, kisah ini bisa ditafsirkan
secara intuitif sesuai dengan tahap kesadaran yang telah
dicapai oleh orang yang belajar ilmu Sufi. Yang jelas saja
kisah ini mengandung nasehat-nasehat, beberapa diantaranya
menekankan dasar dasar utama peradaban modern, antara lain:
"Konyollah apabila kita beranggapan bahwa suatu hal
mengikuti sesuatu yang lain; anggapan itu juga menghalangi
kemajuan selanjutnya," dan "Bahwa sesuatu bisa melakukan
fungsi tertentu tidaklah berarti bahwa juga ia bisa
melakukan lungsi yang lain."
terima kasih telah membaca kisah ini wassalamualaikum wr.wb Read More..
BURUNG DAN TELUR
Zaman dahulu ada seekor burung yang tidak mempunyai tenaga untuk terbang. Seperti ayam, ia berjalan-jalan saja di tanah, meskipun ia tahu bahwa ada burung yang bisa terbang.
Karena berbagai keadaan, ada telur seekor burung yang bisa
dierami oleh burung yang tak bisa terbang itu.
Setelah sampai waktunya, telur itu pun menetas.
Burung kecil itu masih memiliki kemampuan untuk terbang yang
diwarisi dari ibunya, yang tersimpan dalam dirinya sejak ia
masih berada dalam telur.
Ia pun berkata kepada orang tua angkatnya, "Kapan aku akan
terbang?" Dan burung yang hanya bisa berjalan di tanah itu
menjawab, "Cobalah terus menerus belajar terbang, seperti
yang lain."
Yang tua itupun tidak tahu bagaimana mengajarkan cara
terbang kepada anak angkatnya: ia bahkan tidak tahu
bagaimana menjatuhkannya dari sarang agar bisa belajar
terbang.
Dan aneh bahwa burung kecil itu tidak mengetahui hal
tersebut. Pemahamannya terhadap keadaan terkacau oleh
kenyataan bahwa ia merasa berterima kasih kepada burung yang
telah mengeraminya.
"Tanpa jasa itu," katanya kepada diri sendiri, "tentu aku
masih berada dalam telur."
Dan ia juga kadang-kadang berkata kepada dirinya sendiri,
"Siapa pun bisa mengeramiku, tentu bisa juga mengajarku
terbang. Tentunya hanya soal waktu saja, atau karena usahaku
yang tanpa bantuan, atau karena suatu kebijaksanaan agung:
ya, ini jawabnya. Tiba-tiba suatu hari aku akan terbawa ke
tahap berikutnya oleh-nya yang telah membawaku sejauh ini."
Catatan
Kisah ini terdapat dalam berbagai bentuk dalam versi-versi
yang berbeda dari karya Suhrawardi, Awarif al-Maarõf, dan
mengandung pelbagai pesan. Konon, kisah ini bisa ditafsirkan
secara intuitif sesuai dengan tahap kesadaran yang telah
dicapai oleh orang yang belajar ilmu Sufi. Yang jelas saja
kisah ini mengandung nasehat-nasehat, beberapa diantaranya
menekankan dasar dasar utama peradaban modern, antara lain:
"Konyollah apabila kita beranggapan bahwa suatu hal
mengikuti sesuatu yang lain; anggapan itu juga menghalangi
kemajuan selanjutnya," dan "Bahwa sesuatu bisa melakukan
fungsi tertentu tidaklah berarti bahwa juga ia bisa
melakukan lungsi yang lain."
terima kasih telah membaca kisah ini wassalamualaikum wr.wb Read More..
CERITA INI DI AMBIL DARI KISAH" SUFI
ANJING DAN KEDELAI
Seorang yang baru saja menemukan cara memahami arti
suara-suara yang dikeluarkan binatang, pada suatu berjalan
sepanjang lorong di desa.
Dilihatnya seekor keledai, yang baru saja meringkik dan di
sampingnya ada seekor anjing, menyalak-nyalak sekeras-keras-
nya.
Ketika orang itu semakin dekat, arti pertukaran suara
binatang itu bisa ditangkapnya.
"Uh, bosan! Kau ngomong saja tentang rumput dan padang
rumput yang kering bisa dipergunakan sebagai pengganti
daging," katanya menyela.
Kedua binatang itu memandangnya sejenak. Anjing menyalak
keras-keras sehingga suara orang itu tak terdengar sama
sekali; dan keledai menyepak dengan kaki belakangnya tepat
mengenai orang itu sampai kelenger.
Kemudian kedua binatang kembali adu mulut.
Catatan
Kisah ini, yang menyerupai kisah Rumi, adalah fabel dalam
kumpulan kisah Majnun Qalandar, yang mengembara selama empat
puluh tahun pada abad ketiga belas, membacakan kisah nasehat
di pasar-pasar. Beberapa orang mengatakan bahwa ia
benar-benar gila (seperti yang ditunjukkan oleh namanya);
orang-orang lain beranggapan bahwa ia merupakan salah
seorang di antara "Orang-orang yang berubah"-- yang telah
mengembangkan pengertian adanya hubungan antara benda-benda,
yang oleh orang-orang biasa dianggap terpisah.
demikian ceritanya harap di fahami sendi terima kasih
wassalamualikum wr.wb Read More..
Seorang yang baru saja menemukan cara memahami arti
suara-suara yang dikeluarkan binatang, pada suatu berjalan
sepanjang lorong di desa.
Dilihatnya seekor keledai, yang baru saja meringkik dan di
sampingnya ada seekor anjing, menyalak-nyalak sekeras-keras-
nya.
Ketika orang itu semakin dekat, arti pertukaran suara
binatang itu bisa ditangkapnya.
"Uh, bosan! Kau ngomong saja tentang rumput dan padang
rumput yang kering bisa dipergunakan sebagai pengganti
daging," katanya menyela.
Kedua binatang itu memandangnya sejenak. Anjing menyalak
keras-keras sehingga suara orang itu tak terdengar sama
sekali; dan keledai menyepak dengan kaki belakangnya tepat
mengenai orang itu sampai kelenger.
Kemudian kedua binatang kembali adu mulut.
Catatan
Kisah ini, yang menyerupai kisah Rumi, adalah fabel dalam
kumpulan kisah Majnun Qalandar, yang mengembara selama empat
puluh tahun pada abad ketiga belas, membacakan kisah nasehat
di pasar-pasar. Beberapa orang mengatakan bahwa ia
benar-benar gila (seperti yang ditunjukkan oleh namanya);
orang-orang lain beranggapan bahwa ia merupakan salah
seorang di antara "Orang-orang yang berubah"-- yang telah
mengembangkan pengertian adanya hubungan antara benda-benda,
yang oleh orang-orang biasa dianggap terpisah.
demikian ceritanya harap di fahami sendi terima kasih
wassalamualikum wr.wb Read More..
CERITA INI DI AMBIL DARI KISAH" SUFI
AIR SORGA
Haris seorang Badawi, dan istrinya Nafisa hidup
berpindah-pindah tempat membawa tendanya yang tua. Dicarinya
tempat-tempat yang ditumbuhi beberapa kurma, rumputan untuk
untanya, atau yang mengandung sumber air betapapun kotornya.
Kehidupan semacam itu telah dijalani bertahun-tahun lamanya,
dan Haris jarang sekali melakukan sesuatu di luar
kebiasaannya.
Ia biasa menjerat tikus untuk diambil
kulitnya, dan memintal tali dari serat pohon kurma untuk di
jual kepada kafilah yang lewat.
Namun, pada suatu hari sebuah sumber air muncul di padang
pasir, dan Haris pun mencicipi air itu. Baginya air itu
terasa bagaikan air sorga, sebab jauh lebih bersih dari air
yang biasa diminumnya. Bagi kita, air itu akan terasa
memuakkan karena sangat asin. "Air ini," katanya, "harus aku
bawa keseseorang yang bisa menghargainya."
Karena itulah ia berangkat ke Bagdad, ke Istana Harun
al-Rasyid; ia pun berjalan tanpa berhenti kecuali kalau
makan beberapa butir kurma. Haris membawa dua kantong kulit
kambing penuh berisi air: satu untuk dirinya sendiri, yang
lain untuk Sang Kalifah.
Beberapa hari kemudian, ia mencapai Bagdad, dan langsung
menuju istana. Para penjaga istana mendengarkan kisahnya dan
hanya karena begitulah aturan di istana mereka membawa Haris
ke hadapan Raja.
"Pemimpin Kaum yang Setia," kata Haris, "Hamba seorang
Badawi miskin, dan mengetahui segala macam air di padang
pasir, meskipun mungkin hanya mengetahui sedikit tentang
hal-hal lain. Hamba baru saja menemukan Air Sorga ini, dan
menyadari bahwa ini merupakan hadiah yang sesuai untuk Tuan,
hamba pun segera membawanya kemari sebagai persembahan."
Harun Sang Terus terang mencicipi air itu dan, karena ia
sepenuhnya memahami rakyatnya, diperintahkannya para penjaga
membawa pergi Haris dan mengurungnya di suatu tempat sampai
ia mengambil keputusan. Kemudian dipanggilnya kepala
penjaga, katanya, "Apa yang bagi kita sama sekali tak
berguna, baginya berarti segala-galanya. Oleh karena itu
bawalah ia pergi dari istana pada malam hari. Jangan sampai
ia melihat Sungai Tigris yang perkasa itu. Kawal orang itu
sepanjang perjalanan menuju tendanya tanpa memberinya
kesempatan mencicipi air segar. Kemudian berilah ia seribu
mata uang emas dan terima kasihku untuk persembahannya itu.
Katakan bahwa ia adalah penjaga air sorga, dan bahwa atas
namaku ia boleh membagikan air itu kepada kafilah yang lalu,
tanpa pungutan apapun.
Catatan
Kisah ini juga dikenal sebagai "Kisah tentang Dua Dunia."
Kisah ini disampaikan oleh Abu al-Atahiya dan suku Aniza
(sezaman dengan Harun al-Rasyid dan pendiri Darwis Mashkara
('Suka Ria') yang namanya di abadikan dalam istilah Mascara
dalam bahasa-bahasa Barat. Pengikutnya tersebar sampai
Spanyol, Perancis. dan negen-negeri lain.
Al-Atahiya disebut sebagai "Bapak puisi suci Sastra Arab."
Ia meninggal tahun 828.
Read More..
Haris seorang Badawi, dan istrinya Nafisa hidup
berpindah-pindah tempat membawa tendanya yang tua. Dicarinya
tempat-tempat yang ditumbuhi beberapa kurma, rumputan untuk
untanya, atau yang mengandung sumber air betapapun kotornya.
Kehidupan semacam itu telah dijalani bertahun-tahun lamanya,
dan Haris jarang sekali melakukan sesuatu di luar
kebiasaannya.
Ia biasa menjerat tikus untuk diambil
kulitnya, dan memintal tali dari serat pohon kurma untuk di
jual kepada kafilah yang lewat.
Namun, pada suatu hari sebuah sumber air muncul di padang
pasir, dan Haris pun mencicipi air itu. Baginya air itu
terasa bagaikan air sorga, sebab jauh lebih bersih dari air
yang biasa diminumnya. Bagi kita, air itu akan terasa
memuakkan karena sangat asin. "Air ini," katanya, "harus aku
bawa keseseorang yang bisa menghargainya."
Karena itulah ia berangkat ke Bagdad, ke Istana Harun
al-Rasyid; ia pun berjalan tanpa berhenti kecuali kalau
makan beberapa butir kurma. Haris membawa dua kantong kulit
kambing penuh berisi air: satu untuk dirinya sendiri, yang
lain untuk Sang Kalifah.
Beberapa hari kemudian, ia mencapai Bagdad, dan langsung
menuju istana. Para penjaga istana mendengarkan kisahnya dan
hanya karena begitulah aturan di istana mereka membawa Haris
ke hadapan Raja.
"Pemimpin Kaum yang Setia," kata Haris, "Hamba seorang
Badawi miskin, dan mengetahui segala macam air di padang
pasir, meskipun mungkin hanya mengetahui sedikit tentang
hal-hal lain. Hamba baru saja menemukan Air Sorga ini, dan
menyadari bahwa ini merupakan hadiah yang sesuai untuk Tuan,
hamba pun segera membawanya kemari sebagai persembahan."
Harun Sang Terus terang mencicipi air itu dan, karena ia
sepenuhnya memahami rakyatnya, diperintahkannya para penjaga
membawa pergi Haris dan mengurungnya di suatu tempat sampai
ia mengambil keputusan. Kemudian dipanggilnya kepala
penjaga, katanya, "Apa yang bagi kita sama sekali tak
berguna, baginya berarti segala-galanya. Oleh karena itu
bawalah ia pergi dari istana pada malam hari. Jangan sampai
ia melihat Sungai Tigris yang perkasa itu. Kawal orang itu
sepanjang perjalanan menuju tendanya tanpa memberinya
kesempatan mencicipi air segar. Kemudian berilah ia seribu
mata uang emas dan terima kasihku untuk persembahannya itu.
Katakan bahwa ia adalah penjaga air sorga, dan bahwa atas
namaku ia boleh membagikan air itu kepada kafilah yang lalu,
tanpa pungutan apapun.
Catatan
Kisah ini juga dikenal sebagai "Kisah tentang Dua Dunia."
Kisah ini disampaikan oleh Abu al-Atahiya dan suku Aniza
(sezaman dengan Harun al-Rasyid dan pendiri Darwis Mashkara
('Suka Ria') yang namanya di abadikan dalam istilah Mascara
dalam bahasa-bahasa Barat. Pengikutnya tersebar sampai
Spanyol, Perancis. dan negen-negeri lain.
Al-Atahiya disebut sebagai "Bapak puisi suci Sastra Arab."
Ia meninggal tahun 828.
Read More..
CERITA INI DI AMBIL DARI KISAH" SUFI
TIGA EKOR IKAN
Konon, di sebuah kolam tinggal tiga ekor ikan: Si Pandai, Si
Agak Pandai, dan Si Bodoh. Kehidupan mereka berlangsung
biasa saja seperti ikan-ikan lain, sampai pada suatu hari
ketika kolam itu kedatangan-seorang manusia
Ia membawa jala; dan Si Pandai melihatnya dari dalam air.
Sadar akan pengalamannya, cerita-cerita yang pernah
didengarnya, dan kecerdikannya, Si Pandai memutuskan untuk
melakukan sesuatu.
"Hampir tak ada tempat berlindung di kolam ini," pikirnya
"Jadi saya akan pura-pura mati saja."
Ia mengumpulkan segenap tenaganya dan meloncat ke luar
kolam, jatuh tepat di kaki nelayan itu. Tentu saja si
Nelayan terkejut. Karena ikan tersebut menahan nafas,
nelayan itu mengiranya mati: ia pun melemparkan ikan itu
kembali ke kolam. Ikan itu kemudian meluncur tenang dan
bersembunyi di sebuah ceruk kecil dekat pinggir kolam.
Ikan yang kedua, Si Agak-Pandai, tidak begitu memahami apa
yang telah terjadi. Ia pun berenang mendekati Si Pandai dan
menanyakan hal itu." Gampang saja," kata Si Pandai, "saya
pura-pura mati, dan nelayan itu melemparkanku kembali ke
kolam."
Si Agak-Pandai itu pun segera melompat ke darat, jatuh dekat
kaki nelayan. "Aneh," pikir nelayan itu, "ikan-ikan ini
berloncatan ke luar air." Namun, Si Agak Pandai ini ternyata
lupa menahan nafas, dan iapun dimasukkan ke kepis.
Ia kembali mengamat-amati kolam, dan karena agak heran
memikirkan ikan-ikan yang berloncatan ke darat, ia pun lupa
menutup kepisnya. Menyadari hal ini, Si Agak-Pandai berusaha
melepaskan diri ke luar dari kepis, membalik-balikkan
badannya, dan masuk kembali ke kolam. Ia mencari-cari ikan
pertama, ikut bersembunyi di dekatnya --nafasnya
terengah-engah.
Dan ikan ke tiga, Si Bodoh, tidak bisa mengambil pelajaran
dari segala itu, meskipun ia telah mengetahui pengalaman
kedua ikan sebelumnya. Si Pandai dan Si Agak-Pandai memberi
penjelasan secara terperinci, menekankan pentingnya menahan
nafas agar di
"Terimakasih: saya sudah mengerti," kata Si Bodoh. Sehabis
mengucapkan itu, ia pun melemparkan dirinya ke darat, jatuh
tepat dekat kaki nelayan. Sang nelayan langsung memasukkan
ikan ketiga itu kedalam kepisnya tanpa memperhatikan apakah
ikan itu bernafas atau tidak. Berulang kali dilemparkannya
jala ke kolam, namun kedua ikan yang pertama tadi dengan
aman bersembunyi dalam sebuah ceruk. Dan kepisnya sekarang
tertutup rapat.
Akhirnya nelayan itu menghentikan usahanya. Ia membuka
kepisnya, menyadari bahwa ternyata ikan yang di dalamnya
tidak bernafas. Ikan itupun dibawanya pulang untuk makanan
kucing.
Catatan
Konon, kisah ini disampaikan oleh Husein, cucu Muhammad,
kepada Khajagan ('Para Pemimpin') yang pada abad ke empat
belas mengubah namanya menjadi Kaum Naqsahbandi.
Kadang-kadang peristiwanya terjadi di sebuah 'dunia' yang
dikenal sebagai Karatas, di Negeri Batu Hitam.
Versi ini dari Abdul 'Yang berubah' Afifi. Ia mendengarnya
dari Syeh Muhammad Asghar, yang meninggal tahun 1813.
Makamnya di Delhi.
Read More..
Konon, di sebuah kolam tinggal tiga ekor ikan: Si Pandai, Si
Agak Pandai, dan Si Bodoh. Kehidupan mereka berlangsung
biasa saja seperti ikan-ikan lain, sampai pada suatu hari
ketika kolam itu kedatangan-seorang manusia
Ia membawa jala; dan Si Pandai melihatnya dari dalam air.
Sadar akan pengalamannya, cerita-cerita yang pernah
didengarnya, dan kecerdikannya, Si Pandai memutuskan untuk
melakukan sesuatu.
"Hampir tak ada tempat berlindung di kolam ini," pikirnya
"Jadi saya akan pura-pura mati saja."
Ia mengumpulkan segenap tenaganya dan meloncat ke luar
kolam, jatuh tepat di kaki nelayan itu. Tentu saja si
Nelayan terkejut. Karena ikan tersebut menahan nafas,
nelayan itu mengiranya mati: ia pun melemparkan ikan itu
kembali ke kolam. Ikan itu kemudian meluncur tenang dan
bersembunyi di sebuah ceruk kecil dekat pinggir kolam.
Ikan yang kedua, Si Agak-Pandai, tidak begitu memahami apa
yang telah terjadi. Ia pun berenang mendekati Si Pandai dan
menanyakan hal itu." Gampang saja," kata Si Pandai, "saya
pura-pura mati, dan nelayan itu melemparkanku kembali ke
kolam."
Si Agak-Pandai itu pun segera melompat ke darat, jatuh dekat
kaki nelayan. "Aneh," pikir nelayan itu, "ikan-ikan ini
berloncatan ke luar air." Namun, Si Agak Pandai ini ternyata
lupa menahan nafas, dan iapun dimasukkan ke kepis.
Ia kembali mengamat-amati kolam, dan karena agak heran
memikirkan ikan-ikan yang berloncatan ke darat, ia pun lupa
menutup kepisnya. Menyadari hal ini, Si Agak-Pandai berusaha
melepaskan diri ke luar dari kepis, membalik-balikkan
badannya, dan masuk kembali ke kolam. Ia mencari-cari ikan
pertama, ikut bersembunyi di dekatnya --nafasnya
terengah-engah.
Dan ikan ke tiga, Si Bodoh, tidak bisa mengambil pelajaran
dari segala itu, meskipun ia telah mengetahui pengalaman
kedua ikan sebelumnya. Si Pandai dan Si Agak-Pandai memberi
penjelasan secara terperinci, menekankan pentingnya menahan
nafas agar di
"Terimakasih: saya sudah mengerti," kata Si Bodoh. Sehabis
mengucapkan itu, ia pun melemparkan dirinya ke darat, jatuh
tepat dekat kaki nelayan. Sang nelayan langsung memasukkan
ikan ketiga itu kedalam kepisnya tanpa memperhatikan apakah
ikan itu bernafas atau tidak. Berulang kali dilemparkannya
jala ke kolam, namun kedua ikan yang pertama tadi dengan
aman bersembunyi dalam sebuah ceruk. Dan kepisnya sekarang
tertutup rapat.
Akhirnya nelayan itu menghentikan usahanya. Ia membuka
kepisnya, menyadari bahwa ternyata ikan yang di dalamnya
tidak bernafas. Ikan itupun dibawanya pulang untuk makanan
kucing.
Catatan
Konon, kisah ini disampaikan oleh Husein, cucu Muhammad,
kepada Khajagan ('Para Pemimpin') yang pada abad ke empat
belas mengubah namanya menjadi Kaum Naqsahbandi.
Kadang-kadang peristiwanya terjadi di sebuah 'dunia' yang
dikenal sebagai Karatas, di Negeri Batu Hitam.
Versi ini dari Abdul 'Yang berubah' Afifi. Ia mendengarnya
dari Syeh Muhammad Asghar, yang meninggal tahun 1813.
Makamnya di Delhi.
Read More..
3.22.2011
kisah Sufi oleh Idries Shah
AHLI BAHASA DAN DARWIS
Pada suatu malam kelam seorang darwis berjalan melewati
sebuah sumur kering ketika ia mendengar jerit minta tolong
dari dasar sumur itu. "Ada apa?"
"Saya seorang ahli tata bahasa; karena tak tahu jalan, saya
terperosok ke sumur ini; sekarang saya tidak bisa bergerak
sama sekali," jawab orang itu.
"Tenang, bung, biar saya cari tangga bersama tali," kata
darwis itu.
"Tunggu dulu!" kata Si Ahli Tatabahasa. "Tatabahasa dan
pilihan katamu keliru; usahakan memperbaikinya."
"Kalau hal itu memang lebih penting dari yang pokok ini,"
teriak darwis itu, "kau sebaiknya tinggal saja di dasar
sumur itu sampai saya bisa benar-benar berbahasa bagus."
Dan ia pun berlalu.
Catatan
Kisah ini diceritakan oleh Jalaludin Rumi dan dicatat dalam
Tindakan Para Mahir karya Aflaki. Kisah ini pernah
diterbitkan di Inggris tahun 1965 dengan judul Dongeng Para
Sufi; kisah tentang Mevlevis dan tindakan-tindakannya ini
ditulis pada abad ke empat belas.
Beberapa kisahnya sekedar berupa cerita aneh, namun yang
lain mempunyai nilai sejarah: dan beberapa lagi merupakan
jenis aneh yang oleh para Sufi dikenal sebagai "sejarah
penjelasan," yakni serangkaian kejadian disusun untuk
menunjukkan makna yang berkaitan dengan proses psikologis.
Berdasarkan hal itu, kisah-kisah itu disebut "Keterampilan
Ilmuwan Darwis.
Read More..
Pada suatu malam kelam seorang darwis berjalan melewati
sebuah sumur kering ketika ia mendengar jerit minta tolong
dari dasar sumur itu. "Ada apa?"
"Saya seorang ahli tata bahasa; karena tak tahu jalan, saya
terperosok ke sumur ini; sekarang saya tidak bisa bergerak
sama sekali," jawab orang itu.
"Tenang, bung, biar saya cari tangga bersama tali," kata
darwis itu.
"Tunggu dulu!" kata Si Ahli Tatabahasa. "Tatabahasa dan
pilihan katamu keliru; usahakan memperbaikinya."
"Kalau hal itu memang lebih penting dari yang pokok ini,"
teriak darwis itu, "kau sebaiknya tinggal saja di dasar
sumur itu sampai saya bisa benar-benar berbahasa bagus."
Dan ia pun berlalu.
Catatan
Kisah ini diceritakan oleh Jalaludin Rumi dan dicatat dalam
Tindakan Para Mahir karya Aflaki. Kisah ini pernah
diterbitkan di Inggris tahun 1965 dengan judul Dongeng Para
Sufi; kisah tentang Mevlevis dan tindakan-tindakannya ini
ditulis pada abad ke empat belas.
Beberapa kisahnya sekedar berupa cerita aneh, namun yang
lain mempunyai nilai sejarah: dan beberapa lagi merupakan
jenis aneh yang oleh para Sufi dikenal sebagai "sejarah
penjelasan," yakni serangkaian kejadian disusun untuk
menunjukkan makna yang berkaitan dengan proses psikologis.
Berdasarkan hal itu, kisah-kisah itu disebut "Keterampilan
Ilmuwan Darwis.
Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)